Karnaval Budaya Multi Etnik Sedot Perhatian Warga Ambon


Ambon- Karnaval budaya multi etnik nusantara yang digelar Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Maluku di Ambon, Kamis, menarik perhatian ribuan warga Kota Ambon.

Karnaval yang digelar sebagai upaya mendukung pelaksanaan pesta Teluk Ambon ke-11 tahun 2016 serta Hari Ulang Tahun (HUT) ke-441 Kota Ambon, menyedot perhatian warga kota mulai dari anak kecil hingga orang tua.

Warga Kota Ambon berbaur di sepanjang ruas jalan Kota Ambon untuk menyaksikan atraksi budaya 34 provinsi di Indonesia yang dimulai sejak pukul 15.00 – 18.00 WIT.

Setelah peserta karnaval dilepas Gubernur Maluku Said Assagaff dari kawasan Tantui melalui sejumlah ruas jalan di Ambon, warga kota dari berbagai suku memenuhi jalan untuk menyaksikan atraksi budaya.

Hal ini berdampak pada kemacetan yang cukup panjang di sepanjang ruas jalan yang dimulai dari kawasan Galunggung, Batu Merah, menuju Jalan Rijali hingga finish di Monumen Gong Perdamaian Dunian (GPD).

Para peserta karnaval juga menyusuri jalan di Kota Ambon sambil berjalan kaki ditengah teriknya matahari sambil membawakan tarian serta lagu khas daerah.

Peserta juga berpakaian daerah lengkap dan membawakan lagu dan bahasa daerah sebagai bentuk pelestarian budaya Indonesia.

Seorang warga Kota Ambon Budi Armani menyatakan, sangat mengapresiasi karnaval budaya yang dilakukan BPNB Maluku sebagai upaya memperkenalkan sekaligus melestarikan budaya Indonesia.

“Karnaval budaya yang dilakukan membuat saya teringat kampung halaman karena saya dapat menyaksikan tarian, baju adat bahkan bahasa daerah, Saya asli Madiun tetapi saat ini telah menjadi warga kota Ambon, karena itu kegiatan ini membantu saya memperkenalkan budaya kepada anak-anak saya yang lahir di Ambon,” katanya.

Ia berharap, kegiatan karnaval budaya tidak hanya digelar satu tahun sekali, tetapi dilakukan minimal enam bulan sebagai upaya mewariskan budaya bangsa.

Karnaval Budaya Multi etnik Nusantara 2016 di ikuti suku bangsa yang ada di Kota Ambon, yang terdiri dari suku bangsa lokal, nusantara, paguyuban dan sanggar seni yang 35 kelompok.

Selain itu kelompok seni antara lain Sanggar Hatukau, Wairanang, Sanggar Melati, Kelompok Musik Tahuri (Hutumuri), Kelompok Budaya Negeri Sila-Leinitu, kelompok budaya Tulehu, SUPM (Drum Band), Kelompok Musik Totobuang Naku, Sanggar Maharima, Serafim dan Boiratan.

Paguyuban yang berpartisipasi diantaranya Buton, Paguyuban Kalimantan, Kelompok Budaya Ternate, Paguyuban Bali, Jawa Tengah, Paguyuban Papua, dan Minang.(*)

Sumber: Antara
Pewarta: Penina Mayaut
Editor: John Nikita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s