Pemkot Ambon Evaluasi Program Kota Inklusif


Ambon- Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon melakukan evaluasi pelaksanaan program kota inklusif, dua tahun setelah deklarasi dan penandatanganan MoU dengan UNESCO pada September 2014.

“Setelah ditetapkan sebagai salah satu kota yang melaksanakan kota inklusif ditindaklanjuti dengan evaluasi seluruh program yang telah dilakukan dan berbagi dengan kota lain yang telah menerapkan,” kata Penjabat Wali Kota Ambon, Frans Johanes Papilaya, Kamis.

Ia mengatakan, berbagai upaya telah dilakukan untuk mendukung program kota inklusif yakni menerapkan pendidikan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus, serta penyiapan sarana dan prasarana penunjang.

Pendidikan inklusif bukan hanya untuk penyandang disabilitas tetapi juga siswa berbakat istimewa, khusus, serta anak yang memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata.

“Pemerintah memiliki kewajiban menyediakan sarana dan prasarana serta infrastruktur. Karena itu kami berupaya menyiapkan 20 persen fasilitas untuk kaum disabilitas dan berbakat khusus,” katanya.

Menurut dia, sarana dan prasarana kota inklusif mulai diterapkan di Ambon dengan dukungan dari pemerintah pusat, dan telah dilaksanakan sejak tahun 2014.

Pihaknya juga telah melakukan pelatihan bagi guru pendamping khusus (GPK) di sekolah formal untuk melayani siswa disabilitas.

Guru umum, lanjutnya, tidak mungkin bisa melayani siswa disabilitas. Karena itu akan diadakan pelatihan dan penyiapan buku, dan insentif bagi guru.

“Upaya ini telah berjalan sejak tahun 2013, penerapannya dimulai di SMAN 5 dan SMAN 3 , serta SMPN 19. Semua ini dimulai dengan dana rangsangan dan kami berharap seluruh sekolah memiliki motivasi untuk menjalankan kota inklusif,” kata Frans.

Diakuinya, di sekolah formal untuk seluruh tingkatan mulai diterapkan pendidikan inklusif agar penyandang disabilitas dapat menikmati pendidikan yang sama dengan siswa normal.

“Kami memberikan kesempatan kepada anak-anak penyandang cacat yakni keterbatasan fisik dan mental untuk menikmati pendidikan di sekolah umum bersama anak normal lainnya,” katanya.

Frans menambahkan, pihaknya saat ini sedang membangun gedung Pusat Autis (Autis Center) di kawasan Passo, dalam rangka penerapan kota inklusif.

“Proses pembangunan infrastruktur penunjang akan kita sesuaikan dengan kondisi anggaran, jadi kita secara bertahap akan melakukan penataan infrastruktur terkait kota inklusif,” tandasnya.

Sumber: Antara
Pewarta: Penina Mayaut
Editor: John Nikita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s