Fam Pelamonia yang Jadi Nama Rumah Sakit TNI di Makassar


satumaluku.com- Nama Rumah Sakit Pelamonia, bagi masyarakat Makassar, Sulawesi Selatan dan masyarakat kawasan timur Indonesia (KTI) sudah tak asing. Banyak warga Makassar dan Sulawesi Selatan, bahkan dari warga dari KTI pernah merasakan manfaat dari kehadiran rumah sakit tersebut hingga saat ini.

Fakta ini bisa dimaklumi karena kendati RS Pelamonia merupakan milik TNI Angkatan Darat dan operasionalisasi rumah sakit tersebut berada dalam pembinaan Kesdam VII/Wirabuana, namun pelayanan yang diberikan tidak hanya kepada prajurit, PNS beserta keluarganya saja, tetapi juga memberikan pelayanan kesehatan masyarakat umum.

Bahkan melayani penderita dengan status Askes, Jamsostek, Jamkesmas, pasien perusahaan dan masyarakat umum dengan memanfaatkan kapasitas lebih yang dimiliki. Selain itu juga sebagai Rumah Sakit rujukan bagi penderita dari Kawasan Timur Indonesia.

Letkol dr  EE  Pelamonia (Alm), Februari 1952-Agustus 1952
Letkol dr E.E Pelamonia

Bagi masyarakat Maluku, nama RS Pelamonia tentu memiliki nilai tersendiri. Karena “Pelamonia” adalah nama salah satu fam (familienam) dari masyarakat di Pulau Saparua, Maluku Tengah.

Dan faktanya, nama Pelamonia yang melekat pada nama rumah sakit milik TNI Angkatan Darat di Makassar itu, memang sebagai penghargaan kepada putera berdarah Maluku Eduard Ernst Pelamonia, seorang mantan tentara Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL) yang kemudian bergabung dengan TNI.

Kisah pemberian nama Pelamonia pada rumah sakit TNI AD di Makassar itu juga dilatarbelakangi sejarah panjang. Dulunya, rumah sakit tersebut dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1917 dan bernama Militaire Hospital.

Bermula dari pemberangkatan kapal “Zeemeew” dari Jakarta pada tanggal 21 April 1950 disusul kemudian beberapa kapal lainnya, menuju ke Indonesia Timur di Makassar dan pada tanggal 26 April 1950 para pimpinan TNI tiba di Makassar diantaranya Kolonel Kawilarang, Letkol Kosasih, Letkol Soeharto dan Mayor Andi Mattalatta. Para Dokter yang tergabung dengan pasukan TNI ini antara lain adalah Kolonel Soemarno, Letkol Senduk, Mayor Irsan, Mayor Engelen, Mayor Mustamin, Kapten Amino, Kapten Pattiasina dan Kapten Soebagio.

Dalam rangka penyerahan Tentara Belanda (KNIL) di Indonesia bagian timur kepada TNI maka pada tahun 1950 Markas Besar Angkatan Darat di Jakarta membentuk Staf Komando Teritorium Indonesia Timur dengan pimpinan sebagai berikut Panglima Kolonel A.E Kawilarang dan Kepala Staf Letkol R.A. Kosasih.

Pembentukan Tentara dan teritorium Indonesia Timur ini berdasarkan penetapan Menteri Pertahanan Nomor 12/MP/1950 tanggal 6 Januari 1950, kemudian dengan surat penetapan KSAD Nomor 83/KSAD/PNT/1950 tanggal 20 Juni 1950 menjadi Komando Tentara dan Teritorium VII. Tanggal 20 Juni 1950 ini kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kodam VII/Wirabuana.

Sehubungan dengan itu pula Markas Besar Jawatan Kesehatan Angkatan Darat di Jakarta membentuk Staf Kesehatan Angkatan Darat Teritorium Indonesia Timur (DKT-TIT) dengan pimpinan KA DKT-TIT Letkol dr Sumarno Sastroatmodjo dengan Staf Medis Letkol dr. Senduk (Ahli Bedah), Mayor dr. O.E Engelen, dan Kapten Drs. Med. Supeno.

Pada bulan April 1950 terjadilah pemberontakan pertama tentara KNIL di Makassar dibawah pimpinan Kapten Andi Azis terhadap TNI sehingga berangkatlah beberapa Batalyon yang sudah dipersiapkan di Jakarta bersama dengan anggota DKT-TIT yang juga sudah dipersiapkan dengan Kapal Iwaterhand dan sembilan kapal lain. Misinya adalah untuk menumpas pemberontakan Kapten Andi Azis dan menerima penyerahan Militair Hospital dari KNIL kepada TNI.

Militaire Hospital, salah satu instalasi kesehatan tentara Belanda pada saat itu baru dapat diambil alih TNI pada tanggal 12 Juli 1950 kemudian menjadi RST TT VII dengan pimpinan Ka Rumkit Letkol dr. Sumarno S. merangkap Ka DKT-TIT dan Waka Rumkit Mayor tit dr. Ch. Mailoa yang sebelumnya dokter dari Militair Hospital.

Pada tanggal 1 Juni 1957 dengan berubahnya TT VII menjadi Komando Daerah Militer Sulawesi Selatan dan Tenggara (KDMSST) yang kemudian berubah nama menjadi Kodam XIV Hasanuddin, maka Rumah Sakit pun berubah nama dari RST TT. VII menjadi Rumkit KDMSST kemudian menjadi Rumah Sakit Kodam XIV/Hn “Pelamonia” dan kini dikenal dengan nama Rumah Sakit Tk.II Pelamonia.

Nama Pelamonia merujuk pada Letkol dr E.E Pelamonia yang meninggal dalam perawatan akibat sakit kanker tenggorokan di Belanda dan merupakan seorang pejuang yang sangat berjasa dalam bidang Kesehatan.

Bagi kalangan militer Indonesia, nama EE Pelamonia yang konon lahir 28 Januari 1911 di Makassar, tidaklah asing. Dia adalah seorang dokter militer yang ikut berjasa dalam bidang kesehatan.

Dalam lembaran negara, tercatat EE Pelamonia berpangkat Letnan Kolonel dan bertugas di Djawatan Kesehatan Angkatan Darat. Penetapan pangkatnya disahkan oleh Presiden Sukarno lewat Keputusan Presiden RI Nomor 151 Tahun 1952, tertanggal 28 Juni 1952. Dalam Keppres tersebut selain ada nama Pelamonia, juga terdapat 29 nama tentara lainnya, termasuk Dr Ibnu Sutowo.

Sementara dalam sejarah TNI Angkatan Darat, tercatat E.E Pelamonia adalah perwira militer pertama yang menjabat sebagai Direktur Pusat Pendidikan Kesehatan Lapangan Angkatan Darat disingkat PPKL–AD di Cililitan Jakarta. PPKL-AD didirikan pada 9 Februari 1952, yang nantinya belakangan berganti nama menjadi Pusat Pendidikan Kesehatan (Pusdikkes) Angkatan Darat. (petra josua)

sumber referensi:
1. Sejarah kesdam wirabuana
2. Sejarah Pusdikkes AD
3. Tentang RS Pelamonia
4. Keppres RI Nomor 151 Tahun 1952

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s